a pen & a piece of paper

Icon

Grab Our Own Capital!

I look back to my diary this morning at the office and found that first list on 2009 wish list is about to realized tomorrow. I was thought to run a company as a single fighter, it is like finding destiny to know that there is a person who cares and walk in the same track and keep holding on.

We met each other last year on a project in Saudi Arabia and it took this friendship into a meaningful relationship, I can say this is an amazing experience and both of us are adventurous. Last year when we back from Saudi Arabia, facing tough Indonesia drove us into no where. I didn’t have that much difficulties actually, but yes it is. Living here you can not expect a better organized life that you can basicly get if you live aboard.

The funniest thing is, last year we brought some amounts that we earn from the projects, we actually could spend  it into something more useful like starting a business or investment but we didn’t. We were caught with other unnecessary things, deal with social pretension, you know when you are Indonesian you will be forced to be in that hell. The good thing is, we spent a one complete year honeymoon like eternal life, do trips, then hunt for fun project work which actually drive back us into honeymoon. I said it was a honeymoon since we really took it as adventure, trips, fool things and fun when we were actually trying to stand up from a broke. So, last year was a full energizing honeymoon. With my best friend, partner and soul mate.And YEAY, we made it with no night clubs, alcohol stuff, ow man throw that shit! And this year we start this SOHO with survival budgets, reminding each other to maximize every left behind, no impulse buying, think&grab every possibility, and learn a lot of things.

We officially started last March 4, after one week moving my workspace at home to our SOHO and Razi move some equipments, installation and arrangements. With all daring and thinking if don’t start now then it never been started and it wont be something at all. At this SOHO we hope this would be a new start and enter the other new life adventure.

Thanking him, Razi for being around. A nice meaningful person with lots of love and laugh. Also to our both parents, brothers and sisters for their support and guidance. Our closest friends, Faisal, Ali , Lutfi, Dankee, Eka, Niken, Mumut, Putri, Galuh.

This must lead us into something..

Filed under: Days Tell

Kantong Belanja

Dua minggu lalu gue terpaksa belanja di Carrefour karena memang ada yang dicari di ITC Depok. Oke, terpaksa bukan karena apa-apa, Carrefour Depok agak menyulitkan rutenya kalau dari arah Pesona Depok (masa sih?), harus naik jembatan penyeberangan yang tidak terlalu aman dan gue bukan tipe orang yang suka menyeberang disodok-sodok sama angkot yang galak-galak di Margonda Street. I used to shop at Giant Supermarket, dia di jalur masuk ke Depok jadi kalau ada ritual dari luar Depok, bisa belanja dan langsung pulang naksi. Mudah.

Anyway back to Carrefour, surprisingly di kasir mereka menawarkan kantong belanja Carrefour terbuat dari kain (ya kah?), Rp 10.000 satunya. Yang jelas itu bisa dipakai sampai hancur dan ini bisa menghemat plastik. Kita tahu limbah plastik tidak ramah alam dan proses penghancurannya lebih sulit. At least thats what I know.

Beberapa hari sebelumnya gue sempat belanja di Giant Supermarket, dan mereka menawarkan untuk sejumlah barang belanjaan gue dipack dalam kardus. Nice thought, lebih memudahkan gue membawa belanjaan dan lebih terlihat rapi sebenarnya daripada segambreng kantong plastik transparan yang samar-samar memperlihatkan isi belanjaan. Privacy here, tetangga gue matanya ngga perlu jelalatan melihat barang belanjaan kalau gue keluar dari taksi di depan rumah, all tidy wrapped.

Kalau program ini diteruskan dijamin, ini akan membantu limbah plastik dan masyarakat akan lebih tergerak untuk mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan seperti ini for better living.

Gue sekarang mulai bawa kantong belanja sendiri kalau belanja, it washable. Multifungsi juga karena kemaren waktu camping akhirnya gue bawa kantong belanja carrefour buat bawa makanan, hihi. Satu hal lagi, timbunan kantong plastik hasil belanja selama 4 tahun di rumah gue akan lebih segera terhabisi. Bayangkan dalam sebulan gue bisa bawa 10-15 kantong plastik ke rumah dari beragam ukuran, kalau setahun udah berapa tuh dan dikalikan 4 tahun, do the math!

-liaB-

Foto: Gue ambil dari link wordpress di bawah ini, baca artikelnya juga yaaa…

http://akuinginhijau.wordpress.com/2007/12/22/carrefour-menjual-tas-belanja-pengganti-kantong-plastik/

Filed under: Just A Thought

Na’-na’ bil-Laymoon, a Never Missed Guess

Gue doyan makan doyan juga masak,  and I tell you I do appriciate cooking without any MSG or its kind. Campuran bumbu yang alami dengan bahan perasa sangat jauh berbeda baik untuk taste maupun kualitas makanan tentunya.

Kecil gue di Arab Saudi, musim tertentu kami suka memesan daun na’-na’ (nak-nak) yang disini lebih dikenal dengan daun mint. Supaya daun na’-na’ bisa lebih tahan lama, kami menjemurnya sampai kering dan jtinggal diseduh dengan air panas atau sebagai campuran teh. Manis dan minty.

Lulus SD gue mulai tinggal di beberapa tempat, pertama kali ketemu teh na’-na’ waktu SMU di Kuala Lumpur. That day, pulang les hujan lebat dan terpaksa berteduh beberapa waktu di bawah kanopi sebuah kafe. Daripada kena dingin di luar dan masih kena tempias air, mending menunggu hujan di dalam.

Menu favorit? hot chocolate!  Tapi di counter menampang “NEW! MINT TEA” gue langsung berubah pikiran, mungkin sama dengan teh na’-na’. Not Bad untuk jadi obat kangen meski rasa dan aroma mintnya tidak begitu keras. 

Masih di Kuala Lumpur, kedai mamak (warung makan india tamil) selalu menyajikan hidangan kari dan menu berlemak. Sebagai penawar lemak air limau pilihan terbaik di samping lebih murah, hehehe.. tentunya kalau yang hangat ya, cuma agak ribet kalau mau pesan “air limau hangat atau air limau-o ais” HALAHH!

Suka makan suka masak, gue suka membayangkan makanan apa dicampur apa, bagaimana sensasi rasanya. Air lemon, pemanisnya madu ditambah daun na’-na’ (panas apalagi dingin pasti enak) . Manis, asam, minty dan dingin es batu apalagi kalau diblender atau esnya berupa es parut..Hmmm..

Dua minggu lalu gue belanja di Giant Supermarket, daun mint mejeng, pasang body dengan segarnya di rak sayuran, aromanya bisa tercium dari jarak kurang lebih satu meter. I can not resist, langsung sambar dua ikat daun mint. Quite expensive here, harga seikat daun mint disini (Jakarta) mungkin bisa bawa pulang sekardus daun na’-na’ di Saudi.

I tell you, menjelang sampai di rumah otak gue isinya cuma “lemon dipotong-potong, di blender…”. Waktu menimbang sayur ” Daun mint dicuci pakai garam dulu..”, cari pasta buat macaroni “es diblender sama lemon..”. Antri di kasir, “yang enak rasa mintnya dominan, jadi masukin agak banyak”. Di taksi si supir tanya mau kemana, swear gue nyaris mau bilang “yang enak dimadu, jangan digulai”, lucky gue cepat sadar dari dunia khayal. Can’t imagine how embarassing it be..houuff..

Only one perfect person to share. I tell you, this guy, I feel like knowing dining mate! We have so many things in common, dalam bab makanan, selera dan ide masakan dia dan gue sama. So I called him dan dia ssaat itu juga memastikan dirinya segera meluncurkan dirinya ke rumah gue

“I am so love you, you remind me to where I’ve been before and it is soooooo…fresh!”  Thats what he said when he done with his third glass! Hmmm…

Di Timur Tengah menu ini menu favorit untuk menghilangkan haus apalagi kalau musim panas dengan Celcius di atas 50, so refreshing. Panas dalam, bau mulut? Wouldn’t be a problem.

Try it on!

-liaB-

Filed under: Days Tell

I have to do PAP Smear

Friend of mine pernah cerita betapa sakit hatinya dia dengan pelayanan rumah sakit pemerintah (republik kita) ketika dia bermaksud untuk melakukan PAP Smear dan maksudnya untuk melakukan PAP Smear itu dipatahkan mentah-mentah oleh suster sok tahu yang hanya mengukur tensi. Malangnya suster tersebut bicara dengan kerasnya di depan ruang tunggu “Mbak, kalau mau PAP Smear nanti aja kalau umurnya udah tiga puluh limaan. Sekarang mah situ masih muda. Berapa sih umurnya? Tuh kan baru 26 tahun. Oh belum menikah juga kan statusnya?”

Saya mendengarnya terbelalak. How can she do that as a professional?

Friend of mine merasa perlu melakukannya setelah membaca artikel kanker rahim dan berbagai bentuk penyakit yang bisa menyerang organ reproduksi wanita. Doing PAP Smear, surely happen to those are married. But friend of mine is a single lady.

Semua orang punya cerita, begitu juga dengan friend of mine. Bisa jadi dia belum menikah, secara status sosial masih terpampang status lajang di semua dokumen dan tanda pengenal yang dimilikinya. But in fact, she has a sex life experience. Dia pernah melakukan seks. Hold it. Don’t judge too far. Let’s be a professional or at least respect someone’s privacy. This lady, berniat untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya dan kampanye para pakar kesehatan di bidang ini menganjurkan setiap wanita yang sudah melakukan seks untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya dan melakukan PAP Smear minimal 1 tahun sekali.

Kalau organ reproduksi itu kita samakan dengan PC, mungkin akan sama dengan kita melakukan defragment, clean up atau malah semacam PC Total care-nya System Mechanic.  Gejala atau penyakit yang akan datang bisa terdeteksi melalui treatment ini.

Lupakan keingin tahuan dan budaya ikut campur orang kita yang mau tahu kenapa dia melakukan seks dan akan mengkaitkannya dengan nilai-nilai moral, dosa agama, dan sebagainya. Mana tahu dia adalah sexual harassment victim. Cerita perempuan tidak bisa selalu dihentikan pada perempuan sebagai penggoda dan sebagainya. Bagaimana dengan perempuan di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual?

Bukankah logisnya kalau bicara kesehatan, seharusnya kita bicara kenyataan. Seseorang belum menikah bisa jadi sudah melakukan seks terlepas bagaimana ceritanya. Seseorang menikah, tetapi tidak melakukan seks, juga punya cerita tetapi orang tidak perlu tahu ada cerita apa di balik itu bukan? Kalau pun secara media cerita ini harus disampaikan, bukankah seharusnya medis harus melakukannya dengan respect, confidential & professional?

Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang yang bekerja di instansi kesehatan bisa melakukan perlakuan seperti itu. Dengan itikad baiknya untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya saja sudah merupakan bentuk tanggung jawabnya terhadap dirinya. Bukankah itu satu sikap terpuji? Kita diberikan kehidupan, nikmat memiliki tubuh yang merupakan amanat dari Tuhan. Menjaga kesehatan merupakan ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan. Saya yakin agama manapun mengajarkan hal mendasar seperti ini.

Karena kuatnya keinginannya untuk melakukan PAP Smear dan memerikasakan kesehatan reproduksinya akhirnya ia memilih untuk melakukannya di rumah sakit ibu dan anak swasta di kota yang sama, and she did. Dia mendapatkan pelayanan baik, bertemu dengan orang yang dapat melihat masalah dengan open minded.

I wonder, apakah ini masalah profesionalitas di instansi pemerintah versus swasta, atau kesiapan dan ketidaksiapan publik menyikapi dan menghadapi kenyataan yang dianggap tabu padahal sebenarnya ini sudah ada di depan mata di sekeliling kita  tetapi tidak mau melihat dan memahami dan hidup dalam angan-angan idealisme nilai moral dan agama?

Saya melewati rumah sakit tersebut pagi ini, spanduk kampanye kanker mulut rahim terpampang. Disitu ada info pemeriksaan PAP Smear. Any other stories happen today? –liaB-

Filed under: Just A Thought

Days Tell: 13 January 2008

I actually don’t have much time to write, bahkan udah lama-sebulan mungkin tidak posting. Kerjaan sedang numpuk,bo! Tapi mau berbagi sedikit, pagi ini sepulang dari bandara mengantar jamaah haji yang jadi pasien BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) di wisma, saya ke ruang BPHI lagi untuk melihat nenek Asni dari kloter PDG 21. Hmm, sejujurnya saya tidak begitu tahu sakitnya apa-sometimes I don’t wanna mess my mind with someone’s ill di pekerjaan ini, I just do my work assist the nurses. Nenek Asni masih tidur dan karena masih jam6 pagi, saya kembali ke kamar, kayanya kalau bisa tidur selonjoran enak kali yaa.. Jam7 turun lagi karena biasanya katering sudah datang, so, sebelum sarapan di ruang makan disikat massa, lebih baik Nenek Asni sarapan dulu lalu saya makan.

So, saya ambilkan sarapannya dan karena merasa sudah sehat beliau bersikeras untuk makan sendiri. Tapi karena menunya juga ‘tidak menggairahkan’ tadi pagi-I do think the same,Nek- nasi+bihun goreng+telor dadar+sambal+kerupuk+lalap timun, akhirnya beliau makan timunnya pakai sambal. Karena beliau sepertinya bisa ditinggal dan lambung mulai aksi teror, jadi saya ngeloyor pergi ke ruang makan, coba nikmati makanan yang ada. Tapi begitu balik, papasan dengan Bu Neneng,salah satu perawat, tanya “kok pasiennya basah banget gitu Li?” Hmm, basah kenapa?Padahal baru ke toilet juga, sebelum makan sempat saya antar ke toilet.

Ternyata Nenek Asni muntah, karena mual dan hanya makan timun dan minum air jadi muntahannya di baju seperti tumpahan air. Saya lalu ambil hand gloves bersihkan muntahannya, melap badannya yang sebagian kena muntahan dan gantikan bajunya dengan yang baru. Kalau dipikir-pikir, hampir 4 tahun menjadi relawan on-off di UNICEF belum pernah dapat pengalaman seperti ini dan seandainya misi kerja ini bukan misi haji yang bertujuan melayani tamu Allah mungkin belum tentu mau kerja seperti ini. Jangankan melap muntahan nenek, merawat nenek sendiri juga belum pernah sampai saat ini. Dan setelah Nenek Asni rapi, saya baringkan kembali beliau di tempat tidur lalu lari ke ruang makan buatkan segelas kental susu ensure, pengganti makanan yang keluar dan meminumkan obat anti mual-what ever it’s name, blue bottle something. Melihat Nenek Asni rapi dan merasa nyaman lagi, setidaknya sudah tidak mual dan perutnya terisi dan beliau sudah tidur kembali, ada rasa puas di hati. Don’t know why. Believe me, it change my day. Kalau diikutkan, musim haji, orang mana yang tidak sakit. Tapi menjadi sehat dan ada di sekitar orang sakit dan masih diberi kesempatan untuk membantu, rasanya-indescribable.

Inyiak- ibu dari Papa tanggal 1 Januari 2008 kemaren meninggal dunia.Inyiak-begitu saya memanggil nenek dari Papa meninggal dalam usia 85 tahun. Seumur hidup saya hanya beberapa kali bertemu beliau dan tidak dipungkiri kami tidak mempunyai chemistry nenek-cucu yang mungkin dimiliki sebagian orang lainnya. Saya dan adik-adik tinggal jauh dari tanah air dan kalaupun beberapa kurun waktu kami tinggal di tanah air juga tidak dekat dengan keluarga besar. Tapi hampir 70 hari terakhir saya terlibat kontak dengan puluhan nenek yang tidak pernah saya kenal, bahkan ada yang tidak saya mengerti apa yang beliau ucapkan sewaktu saya bantu gantikan pampersnya berdua Bu Titin-duet saya dinas bantu jamaah uzur di ‘hammam‘ King Abdul Aziz International Airport- lalu ada juga yang hanya terharu sambil mengusap air mata waktu wudhu saya bantu usapkan kakinya saat wudhu karena stroke, ada yang tiba-tiba menangis memeluk saya dan mengadu tidak seorang pun anak dan cucunya yang pernah memperlakukannya seperti saya lakukan, yang menggelikan ada yang langsung kenalkan saya dengan anaknya yang juga kebetulan berangkat naik haji dampingi beliau, and I tell you he was a handsome one, but married with two, hahaha..

Tuhan adil , melengkapi satu hal yang tidak ada di tempat tertentu dan memberikan kesempatan pada sesuatu yang lebih mengisi tempat lain yang masih kosong, it’s just perfect.

-liaB-

Filed under: Days Tell