I actually don’t have much time to write, bahkan udah lama-sebulan mungkin tidak posting. Kerjaan sedang numpuk,bo! Tapi mau berbagi sedikit, pagi ini sepulang dari bandara mengantar jamaah haji yang jadi pasien BPHI (Balai Pengobatan Haji Indonesia) di wisma, saya ke ruang BPHI lagi untuk melihat nenek Asni dari kloter PDG 21. Hmm, sejujurnya saya tidak begitu tahu sakitnya apa-sometimes I don’t wanna mess my mind with someone’s ill di pekerjaan ini, I just do my work assist the nurses. Nenek Asni masih tidur dan karena masih jam6 pagi, saya kembali ke kamar, kayanya kalau bisa tidur selonjoran enak kali yaa.. Jam7 turun lagi karena biasanya katering sudah datang, so, sebelum sarapan di ruang makan disikat massa, lebih baik Nenek Asni sarapan dulu lalu saya makan.
So, saya ambilkan sarapannya dan karena merasa sudah sehat beliau bersikeras untuk makan sendiri. Tapi karena menunya juga ‘tidak menggairahkan’ tadi pagi-I do think the same,Nek- nasi+bihun goreng+telor dadar+sambal+kerupuk+lalap timun, akhirnya beliau makan timunnya pakai sambal. Karena beliau sepertinya bisa ditinggal dan lambung mulai aksi teror, jadi saya ngeloyor pergi ke ruang makan, coba nikmati makanan yang ada. Tapi begitu balik, papasan dengan Bu Neneng,salah satu perawat, tanya “kok pasiennya basah banget gitu Li?” Hmm, basah kenapa?Padahal baru ke toilet juga, sebelum makan sempat saya antar ke toilet.
Ternyata Nenek Asni muntah, karena mual dan hanya makan timun dan minum air jadi muntahannya di baju seperti tumpahan air. Saya lalu ambil hand gloves bersihkan muntahannya, melap badannya yang sebagian kena muntahan dan gantikan bajunya dengan yang baru. Kalau dipikir-pikir, hampir 4 tahun menjadi relawan on-off di UNICEF belum pernah dapat pengalaman seperti ini dan seandainya misi kerja ini bukan misi haji yang bertujuan melayani tamu Allah mungkin belum tentu mau kerja seperti ini. Jangankan melap muntahan nenek, merawat nenek sendiri juga belum pernah sampai saat ini. Dan setelah Nenek Asni rapi, saya baringkan kembali beliau di tempat tidur lalu lari ke ruang makan buatkan segelas kental susu ensure, pengganti makanan yang keluar dan meminumkan obat anti mual-what ever it’s name, blue bottle something. Melihat Nenek Asni rapi dan merasa nyaman lagi, setidaknya sudah tidak mual dan perutnya terisi dan beliau sudah tidur kembali, ada rasa puas di hati. Don’t know why. Believe me, it change my day. Kalau diikutkan, musim haji, orang mana yang tidak sakit. Tapi menjadi sehat dan ada di sekitar orang sakit dan masih diberi kesempatan untuk membantu, rasanya-indescribable.
Inyiak- ibu dari Papa tanggal 1 Januari 2008 kemaren meninggal dunia.Inyiak-begitu saya memanggil nenek dari Papa meninggal dalam usia 85 tahun. Seumur hidup saya hanya beberapa kali bertemu beliau dan tidak dipungkiri kami tidak mempunyai chemistry nenek-cucu yang mungkin dimiliki sebagian orang lainnya. Saya dan adik-adik tinggal jauh dari tanah air dan kalaupun beberapa kurun waktu kami tinggal di tanah air juga tidak dekat dengan keluarga besar. Tapi hampir 70 hari terakhir saya terlibat kontak dengan puluhan nenek yang tidak pernah saya kenal, bahkan ada yang tidak saya mengerti apa yang beliau ucapkan sewaktu saya bantu gantikan pampersnya berdua Bu Titin-duet saya dinas bantu jamaah uzur di ‘hammam‘ King Abdul Aziz International Airport- lalu ada juga yang hanya terharu sambil mengusap air mata waktu wudhu saya bantu usapkan kakinya saat wudhu karena stroke, ada yang tiba-tiba menangis memeluk saya dan mengadu tidak seorang pun anak dan cucunya yang pernah memperlakukannya seperti saya lakukan, yang menggelikan ada yang langsung kenalkan saya dengan anaknya yang juga kebetulan berangkat naik haji dampingi beliau, and I tell you he was a handsome one, but married with two, hahaha..
Tuhan adil , melengkapi satu hal yang tidak ada di tempat tertentu dan memberikan kesempatan pada sesuatu yang lebih mengisi tempat lain yang masih kosong, it’s just perfect.
-liaB-
Filed under: Days Tell