a pen & a piece of paper

Icon

I have to do PAP Smear

Friend of mine pernah cerita betapa sakit hatinya dia dengan pelayanan rumah sakit pemerintah (republik kita) ketika dia bermaksud untuk melakukan PAP Smear dan maksudnya untuk melakukan PAP Smear itu dipatahkan mentah-mentah oleh suster sok tahu yang hanya mengukur tensi. Malangnya suster tersebut bicara dengan kerasnya di depan ruang tunggu “Mbak, kalau mau PAP Smear nanti aja kalau umurnya udah tiga puluh limaan. Sekarang mah situ masih muda. Berapa sih umurnya? Tuh kan baru 26 tahun. Oh belum menikah juga kan statusnya?”

Saya mendengarnya terbelalak. How can she do that as a professional?

Friend of mine merasa perlu melakukannya setelah membaca artikel kanker rahim dan berbagai bentuk penyakit yang bisa menyerang organ reproduksi wanita. Doing PAP Smear, surely happen to those are married. But friend of mine is a single lady.

Semua orang punya cerita, begitu juga dengan friend of mine. Bisa jadi dia belum menikah, secara status sosial masih terpampang status lajang di semua dokumen dan tanda pengenal yang dimilikinya. But in fact, she has a sex life experience. Dia pernah melakukan seks. Hold it. Don’t judge too far. Let’s be a professional or at least respect someone’s privacy. This lady, berniat untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya dan kampanye para pakar kesehatan di bidang ini menganjurkan setiap wanita yang sudah melakukan seks untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya dan melakukan PAP Smear minimal 1 tahun sekali.

Kalau organ reproduksi itu kita samakan dengan PC, mungkin akan sama dengan kita melakukan defragment, clean up atau malah semacam PC Total care-nya System Mechanic.  Gejala atau penyakit yang akan datang bisa terdeteksi melalui treatment ini.

Lupakan keingin tahuan dan budaya ikut campur orang kita yang mau tahu kenapa dia melakukan seks dan akan mengkaitkannya dengan nilai-nilai moral, dosa agama, dan sebagainya. Mana tahu dia adalah sexual harassment victim. Cerita perempuan tidak bisa selalu dihentikan pada perempuan sebagai penggoda dan sebagainya. Bagaimana dengan perempuan di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual?

Bukankah logisnya kalau bicara kesehatan, seharusnya kita bicara kenyataan. Seseorang belum menikah bisa jadi sudah melakukan seks terlepas bagaimana ceritanya. Seseorang menikah, tetapi tidak melakukan seks, juga punya cerita tetapi orang tidak perlu tahu ada cerita apa di balik itu bukan? Kalau pun secara media cerita ini harus disampaikan, bukankah seharusnya medis harus melakukannya dengan respect, confidential & professional?

Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang yang bekerja di instansi kesehatan bisa melakukan perlakuan seperti itu. Dengan itikad baiknya untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya saja sudah merupakan bentuk tanggung jawabnya terhadap dirinya. Bukankah itu satu sikap terpuji? Kita diberikan kehidupan, nikmat memiliki tubuh yang merupakan amanat dari Tuhan. Menjaga kesehatan merupakan ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan. Saya yakin agama manapun mengajarkan hal mendasar seperti ini.

Karena kuatnya keinginannya untuk melakukan PAP Smear dan memerikasakan kesehatan reproduksinya akhirnya ia memilih untuk melakukannya di rumah sakit ibu dan anak swasta di kota yang sama, and she did. Dia mendapatkan pelayanan baik, bertemu dengan orang yang dapat melihat masalah dengan open minded.

I wonder, apakah ini masalah profesionalitas di instansi pemerintah versus swasta, atau kesiapan dan ketidaksiapan publik menyikapi dan menghadapi kenyataan yang dianggap tabu padahal sebenarnya ini sudah ada di depan mata di sekeliling kita  tetapi tidak mau melihat dan memahami dan hidup dalam angan-angan idealisme nilai moral dan agama?

Saya melewati rumah sakit tersebut pagi ini, spanduk kampanye kanker mulut rahim terpampang. Disitu ada info pemeriksaan PAP Smear. Any other stories happen today? –liaB-

Filed under: Just A Thought