a pen & a piece of paper

Icon

Kantong Belanja

Dua minggu lalu gue terpaksa belanja di Carrefour karena memang ada yang dicari di ITC Depok. Oke, terpaksa bukan karena apa-apa, Carrefour Depok agak menyulitkan rutenya kalau dari arah Pesona Depok (masa sih?), harus naik jembatan penyeberangan yang tidak terlalu aman dan gue bukan tipe orang yang suka menyeberang disodok-sodok sama angkot yang galak-galak di Margonda Street. I used to shop at Giant Supermarket, dia di jalur masuk ke Depok jadi kalau ada ritual dari luar Depok, bisa belanja dan langsung pulang naksi. Mudah.

Anyway back to Carrefour, surprisingly di kasir mereka menawarkan kantong belanja Carrefour terbuat dari kain (ya kah?), Rp 10.000 satunya. Yang jelas itu bisa dipakai sampai hancur dan ini bisa menghemat plastik. Kita tahu limbah plastik tidak ramah alam dan proses penghancurannya lebih sulit. At least thats what I know.

Beberapa hari sebelumnya gue sempat belanja di Giant Supermarket, dan mereka menawarkan untuk sejumlah barang belanjaan gue dipack dalam kardus. Nice thought, lebih memudahkan gue membawa belanjaan dan lebih terlihat rapi sebenarnya daripada segambreng kantong plastik transparan yang samar-samar memperlihatkan isi belanjaan. Privacy here, tetangga gue matanya ngga perlu jelalatan melihat barang belanjaan kalau gue keluar dari taksi di depan rumah, all tidy wrapped.

Kalau program ini diteruskan dijamin, ini akan membantu limbah plastik dan masyarakat akan lebih tergerak untuk mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan seperti ini for better living.

Gue sekarang mulai bawa kantong belanja sendiri kalau belanja, it washable. Multifungsi juga karena kemaren waktu camping akhirnya gue bawa kantong belanja carrefour buat bawa makanan, hihi. Satu hal lagi, timbunan kantong plastik hasil belanja selama 4 tahun di rumah gue akan lebih segera terhabisi. Bayangkan dalam sebulan gue bisa bawa 10-15 kantong plastik ke rumah dari beragam ukuran, kalau setahun udah berapa tuh dan dikalikan 4 tahun, do the math!

-liaB-

Foto: Gue ambil dari link wordpress di bawah ini, baca artikelnya juga yaaa…

http://akuinginhijau.wordpress.com/2007/12/22/carrefour-menjual-tas-belanja-pengganti-kantong-plastik/

Filed under: Just A Thought

Na’-na’ bil-Laymoon, a Never Missed Guess

Gue doyan makan doyan juga masak,  and I tell you I do appriciate cooking without any MSG or its kind. Campuran bumbu yang alami dengan bahan perasa sangat jauh berbeda baik untuk taste maupun kualitas makanan tentunya.

Kecil gue di Arab Saudi, musim tertentu kami suka memesan daun na’-na’ (nak-nak) yang disini lebih dikenal dengan daun mint. Supaya daun na’-na’ bisa lebih tahan lama, kami menjemurnya sampai kering dan jtinggal diseduh dengan air panas atau sebagai campuran teh. Manis dan minty.

Lulus SD gue mulai tinggal di beberapa tempat, pertama kali ketemu teh na’-na’ waktu SMU di Kuala Lumpur. That day, pulang les hujan lebat dan terpaksa berteduh beberapa waktu di bawah kanopi sebuah kafe. Daripada kena dingin di luar dan masih kena tempias air, mending menunggu hujan di dalam.

Menu favorit? hot chocolate!  Tapi di counter menampang “NEW! MINT TEA” gue langsung berubah pikiran, mungkin sama dengan teh na’-na’. Not Bad untuk jadi obat kangen meski rasa dan aroma mintnya tidak begitu keras. 

Masih di Kuala Lumpur, kedai mamak (warung makan india tamil) selalu menyajikan hidangan kari dan menu berlemak. Sebagai penawar lemak air limau pilihan terbaik di samping lebih murah, hehehe.. tentunya kalau yang hangat ya, cuma agak ribet kalau mau pesan “air limau hangat atau air limau-o ais” HALAHH!

Suka makan suka masak, gue suka membayangkan makanan apa dicampur apa, bagaimana sensasi rasanya. Air lemon, pemanisnya madu ditambah daun na’-na’ (panas apalagi dingin pasti enak) . Manis, asam, minty dan dingin es batu apalagi kalau diblender atau esnya berupa es parut..Hmmm..

Dua minggu lalu gue belanja di Giant Supermarket, daun mint mejeng, pasang body dengan segarnya di rak sayuran, aromanya bisa tercium dari jarak kurang lebih satu meter. I can not resist, langsung sambar dua ikat daun mint. Quite expensive here, harga seikat daun mint disini (Jakarta) mungkin bisa bawa pulang sekardus daun na’-na’ di Saudi.

I tell you, menjelang sampai di rumah otak gue isinya cuma “lemon dipotong-potong, di blender…”. Waktu menimbang sayur ” Daun mint dicuci pakai garam dulu..”, cari pasta buat macaroni “es diblender sama lemon..”. Antri di kasir, “yang enak rasa mintnya dominan, jadi masukin agak banyak”. Di taksi si supir tanya mau kemana, swear gue nyaris mau bilang “yang enak dimadu, jangan digulai”, lucky gue cepat sadar dari dunia khayal. Can’t imagine how embarassing it be..houuff..

Only one perfect person to share. I tell you, this guy, I feel like knowing dining mate! We have so many things in common, dalam bab makanan, selera dan ide masakan dia dan gue sama. So I called him dan dia ssaat itu juga memastikan dirinya segera meluncurkan dirinya ke rumah gue

“I am so love you, you remind me to where I’ve been before and it is soooooo…fresh!”  Thats what he said when he done with his third glass! Hmmm…

Di Timur Tengah menu ini menu favorit untuk menghilangkan haus apalagi kalau musim panas dengan Celcius di atas 50, so refreshing. Panas dalam, bau mulut? Wouldn’t be a problem.

Try it on!

-liaB-

Filed under: Days Tell