Tulisan serupa juga saya upload di www.angkatan24.wordpress.com
Lagi panas emang sama malaysia..kalo malaysia itu bukan negara, tapi orang, udh saya sobek-sobek dari kapan tau..
tapi berhubung saya ga sanggup sobek-sobek negara malaysia mending kita cerna dan cari jalan elegan untuk solusinya.
Introspeksi terlebih dulu, is a must. Siapa dan seperti apa kita, Indonesia. Kita tau civil society kita kalau buat yang pahit-pahit deeughh…susah. Semua orang-termasuk kita jg mungkin nafsi-nafsi. Ah saya ga kena ini…ato cari alibi pembenaran utk tutup mata, pura-pura ngga ngerti… baik kaya maupun miskin, yg berpendidikan dan ga berpendidikan. Tapi bukan berarti semua begitu ya…
Persoalan Indonesia-Malaysia harus dipisah case per case masalahnya, segala sesuatu harus disikapi berdasarkan porsinya.
TKI, ilegal dan legal. Yang legal, datang baik-baik tapi nasib tidak baik, jadi korban macam-macam bentuk kekerasan. Ini tidak hanya terjadi di malaysia, hampir semua negara yang dikirimi pemerintah kita TKI ada case yang sama. Kita harus kaji, perlindungan negara kita terhadap warganya bagaimana? TKI yang diasung sebagai pahlawan devisa tidak pernah diperlakukan manusiawi oleh bangsa sendiri. Pernah dengar hasil jerih payah mereka bahkan sampai 1Riyal Saudi kekayaan yg dia bawa ke tanah air dengan badan sudah tidak jelas bentuknya juga masih dipalak mafia imigrasi di terminal 3 Soekarno-Hatta? di dalam negeri sibuk heboh sama undang-undang ketenagakerjaan yg ada di dalam negri, tapi yang di luar negri dipikirin ngga?
Pernah tahu kalau TK Flipina punya hak libur 2hari dlm seminggu dari negaranya dan negara pengimpor jasa TKI mereka harus ikut rule yang mereka tetapkan dan mereka konsisten dengan hak&tanggung jawabnya?
Tapi sudah tahu kan kalau TKI kita selalu disekap selama dia kerja sama majikan, paspor ditahan, tidak boleh bergaul sama orang setanah air. Tidak heran kalau mereka nekad kabur. Sampai di KJRI, di penampungan juga kalau ada staf KJRI atau calo yang juga error juga masih dizalimi juga. apa negara tahu?
Kalau ngga diblow up ke media dulu ngga akan ditindak benar-benar.
Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri waktu kelas 3 SD, seorang TKW kabur datang ke KJRI Jeddah usai shalat tarawih berjamaah dengan kondisi mengenaskan, semua kulitnya melepuh disiram minyak mendidih. Dia cuma bisa bilang “bagaimana ini pak” ketika ditemui beberapa home staff KJRI yang waktu itu sedang ngopi di teras masjid. Ini tidak pernah dibiarkan berlarut-larut jika terjadi pada TK asal Filipina, India, Bangladesh dll.
Karena orang lokal akan mikir dua-tiga kali kalau mau berbuat seenaknya sama warga negaranya.
Konklusinya: kalau negara kita juga kasih perlindungan yang pasti, kondisi terburuk terjadi kita masih bisa memperjuangkan “keadilan yang layak”- jd sekarang belum layak ya keadilannya?
thats a thought!
Masalah treatment mereka secara general terhadap orang Indonesia yang merantau disana, tidak dipungkiri siapapun yang niat baik akan tersinggung kalau diperlakukan tidak pantas. Semasa sekolah di Kuala Lumpur dulu, kayanya panas banget kalau dipanggil Indon. hweh! mau dicari dibelahan bumi manapun ngga ada yang namanya Indon.Kalo perempuan nama Endon di Malaysia buanyak (itu emang nama orang.red)
Saya akui, mereka memang memandang sebelah mata sama orang indonesia. Merasa lebih tinggi dari yang lain memang iya-meski seandainya tidak ada kasus orang indonesia yang “aneh-aneh dan dianeh-anehi” di Malaysia. Tapi let me share something,
bangsa peranakan akan selalu merasa lebih tinggi dari yang induknya.
Coba lihat bagaimana sombongnya orang Amerika kalau berhadapan sama orang Inggris atau negara Eropa lainnya. Kami lebih modern, thanks god i’m American. Atau cibiran orang Eropa buat terhadap Amerika “orang Amerika dimana dan kemana pergi merasa super”. Atau bagaimana kerasnya orang maroko&algeria (aljazair) berjuang mem-prancis-kan dirinya karena dia bekas jajajahn perancis. Tidak mau dianggap Asia dan Afrika.
Ini juga terjadi dengan Malaysia, kalau kita pergi ke Johor, kita tahu disitu dulu kampung perantauan Jawa zaman jebot, ke Negeri Sembilan, kita tahu bahkan kata Negeri Sembilan dari Ranah Minang, dari daerah Nagari Sambilan. Bahkan di buku sejarah sekolah mereka pun disebutkan bahwa nenek moyangnya dari Tanah Pagaruyung, adatnya adopsi adat Perpatih&Temenggung, ditambah yang keturunan Bugis, menyandang “daeng” di depan nama mereka, tandanya masih keluarga ningrat.
Karena mereka bagian yang terbuang atau membuang diri, di tanah asal mereka dianggap bukan orang kampungnya, karena asimilasi dan sebagainya kultur mereka sudah tidak “pure”.
Tapi di tanah rantau juga tidak diakui kalau mereka sebagai penduduk setempat karena memang jelas-jelas pendatang, meski pernikahan campur sudah banyak. Alhasil yang tersisa “pride” atau kebanggaan sebagai perantau yang bisa survive dan karena mereka berjuang di tanah tersebut jadi “sudah sebati” (istilahnya orang Malaysia untuk mendarah daging), tentunya semangat nasional yang tersisa. lalu “campaign” lah, Malaysiaku, Malaysia kamu juga, cinta Malaysia dst.
Bangga-bangga jadi seorang Malaysia, nunjuk Indon ngomong “tapi tuk-tuk (datuk-datuk: kakek) saye jugak dulu datang daripada jawe, saye punye mak ngah hari pun nikah dengan orang negeri sembilan. Masa dia nak kahwin, diaorang adelah pegi sekali kat Bukittinggi, jumpa famili, saudara-mara kat sane.Kat sane syok jugak tau..”
Ini penuturan salah seorang teman sekolah yang sempat mandang sebelah mata waktu tau saya orang Indonesia. Tapi karena kita beda nih, kaga kaya stereotip orang kite jadi rada berubah dah tuh, malah impressed.
Jadi memang perlu kerja keras untuk melawan opini publik disana terhadap imej bangsa kita. Angkat tangan deh kalau mengandalkan pemerintah bikin undang-undang dsb, belum ntar buat rapat saja biayanya bisa ditilep juga bangsa seperak-dua perak.
Bukan pesimis, tapi mari jadi agent of change untuk merubah opini masyarakat di luar sana terhadap bangsa kita.Terutama bagi teman-teman Indonesia yang ada di luar negeri. Jadilah seorang bangsawan tanpa membirukan darah. Tunjukkan kalau kita tidak seperti yang dibayangkan.
Masalah budaya kita dimalingi mereka.
Geram ya geram banget! Terlebih yang paling banyak dia ambil yang memang dari nenek moyang; tuk-tuk die seperti sumatra barat, jawa…nyeleneh dikit ke ambon. Pakai maksa “rasa sayang hey”, orang Ambon udah manis-manis bikin lagu dari zaman baheula enak didengar “rasa sayange” karena memang lidahnya begitu.
Tapi coba kembali introspeksi, kita, orang Indonesia sudah berbuat apa untuk melestarikan budaya kita? Perlu diketahui, batik tidak hanya ada di Jawa, batik sumatra pun ada (ada yang tahu ngga?) di Sumatra ada Batik Tanah Liek di Sumatra Barat, Jambi pun punya Batik Jambi, saya jamin kalau orang Irian Jaya pegang canting juga akan membatik. Dan bisa jadi di Malaysia sana memang ada kampung batik seperti yang kita akan temui di Pekalongan. Tapi, tetap saja leluhurnya dari Jawa. Asalnya dari Jawa. Kita punya history tracknya, bagaimana sebuah batik berbicara. Perjalanan ribuan tahun untuk menghasilkan ragam batik yang kita punya sekarang. Bukan se-instan Malaysia mengklaim batik miliknya. Harusnya orang Jawa lebih dulu memikirkan untuk mematenkan batiknya sebagai induk dari segala perkembangan batik yang terjadi di dunia.
Orang Minang, punya songket, di Malaysia pun memang ada songket malaysia. Sakit hati begitu tahu diklaim? ya sakit, tapi kemana aja selama ini? lha merantau semua kapan mau membina songket, mikirin juga ngga.
Satu hal lagi, kita miskin literatur budaya. Apalagi yang hasil anak negeri. Coba sesekali cari buku tentang kesenian daerah kita di Gramedia atau toko buku, dijamin yang menulis kulit putih, para orientalis putih.
Harganya mahal-mahal, minimal 500.000, tapi mereka tidak pelit warna, tekstur dan gambar, kalau perlu contoh kain ditempel di buku. Coba orang kita buat riset kesitu, boro-boro. Tidak pernah serius memandang itu sebagai sebuah potensi industri , ya ngga dikaji. Kalau tidak pernah dikaji, ya tidak akan pernah punya literatur. Kalau tidak punya literatur tidak punya bukti otentik untuk membuktikan sesuatu meski seandainya kita belum membuat paten.
Ketika kita merasa dicurangi kita berkoar-koar penuh emosi ala barbarian. Kawan, itu tidak menyelesaikan masalah.
Kalau ada yang pernah nonton film “get married” yang baru keluar yang dilakoni Nirina Zubir,Aming,Desta&Ringgo, waktu anak komplek ngomporin serang balik ke kampung ada scene mereka dibayangi seperti orang primitif “..hunggaa..hungga..uuuhh…uh..huaaa” . Jujur bayangan itu seperti de ja vu buat saya kalau lihat orang kita mengamuk di jalan akan sesuatu.
Come on, di zaman ini, orang kuat yang bisa survive, kriteria orang kuat, orang yang otaknya kompeten. Sudah bukan zamannya lagi otot yang bermain. That is exactly what I’ve been seen in my mind for these years!
RELA, seperti yang sudah kita baca di majalah tempo,
Orang-orang yang masuk dalam pasukan RELA, mayoritas melayu. Kita tahu, melayu menguasai pemerintahan malaysia, sementara Cina merajai perekonomian, India bidang profesional lainnya.
Kita tahu juga kalau RELA, banyak yang mantan pengangguran, preman yang mungkin pernah mangkal di terminal Pudu Raya KL, atau orang-orang rantau gagal dari daerah pelosok seperti Kelantan, Terengganu dsb. Dari situ kita bisa ukur, kan seberapa tingkat intelegensinya?
Sekolahkah? Sekolah yang seperti apa?
Sama saja dengan sebagian PNS kita yang seleksi “icak-icak” tapi berduit lalu goal. Beli Ijazah gampang kan? Bukan maksud hati mendiskritkan PNS ya, maap-maap nih..
Tapi fakta akan ini memang ada. Disana pun juga begitu tapi ya mungkin tidak separah kita disini.
Melayu terkenal malas, Mahathir pun menangis dan berjuang keras untuk mengangkat pantat melayunya untuk bisa sejajar, sama qualifiednya dengan India apalagi Cina.
KIta pun melayu, kurang lebih sama. Tapi malas ambil tahu, malas berjuang, malas belajar, mau instan, malas peduli, orang berhasil kita sirik. Ya, sekali lagi memang tidak semua dari kita.
Ayo kita angkat pantat masing-masing dan kerja dan belajar. Yang kuat yang punya otak.
Personal nih, dulu saya sebel sama orang Indonesia.
Pernah setengah jijik, setengah benci.
Kok bodoh, pengecut, tukang iri, mental malas, dari yang kaya sampai yang miskin. Dari yang tidak sekolah sampai yang sekolah. Selalu cari alibi untuk tidak peduli. Tapi, saya seorang Indonesia.
Semakin besar, semakin banyak bertemu orang beragam bangsa, dan sebangsa banyak ragam, semakin menyadari kalau harus dekat dengan orang sendiri. Supaya tahu, supaya mengerti.
Pernah ngomong, “masih enak hidup jadi orang asing di luar negri daripada hidup sebagai warga negara di negara sendiri”.
Tapi bagaimanapun darah tetap Indonesia, kulit bisa diputih, bisa dihitamkan. Kalau punya anak, anaknya juga akan mewarisi sawo matang. Maka saya tetap sawo matang.
Lari pun orang tahu, jadi buat apa lari.
Ayo jadi agent of change, rubah apa yang kita bisa ubah. Punya otot, belum punya otak cukup, ya berkaryalah. Punya otak tapi otot belum gede, berpikirlah untuk orang banyak. Belum punya dua-duanya, cari dua-duanya atau mati…(kejam yak?)
Punya dua-duanya? tunggu apa lagi?
Mau dibilang melayu si berat pantat? -liaB-